Cendrawasihpost.com, SEMARANG — Keretakan yang muncul pada belasan rumah warga di RT 006/RW 005, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, memicu perhatian DPRD Kota Semarang dan berujung pemanggilan pihak Pakuwon Group. Kerusakan rumah warga itu diduga dipicu dua proyek besar yang berlangsung bersamaan di kawasan Gombel.
Perlu diketahui dua proyek besar yang sedang dikerjakan di kawasan Gombel di antaranya perbaikan jalan turunan Gombel dan pekerjaan pematangan lahan untuk pembangunan komersial Mal Pakuwon.
Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Rukiyanto, mengatakan bahwa pihaknya telah menerima terkait aduan belasan rumah warga yang retak-retak imbas proyek di Gombel. DPRD lantas memanggil pihak Pakuwon untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawaban terhadap warga yang terdampak.
“Kami Komisi C [hari ini] memanggil Pakuwon sebagai investor yang masuk ke Kota Semarang dan kita juga sudah diberikan penjelasan terkait penguatan lahan yang sudah dikerjakan,” ujar Rukiyanto selepas mengadakan rapat dengar pendapat, Rabu (17/6/2026).
Rukiyanto menilai penjelasan kepada warga penting dilakukan agar tidak memunculkan spekulasi maupun kekhawatiran terkait proses pembangunan yang berlangsung di kawasan tanah gerak. Apalagi proyek tersebut berdampak atau menimbulkan gangguan teknis ke lingkungan sekitar.
“Masyarakat perlu mengetahui untuk menjawab pertanyaan ataupun kekhawatiran terkait hal-hal teknis karena pembangunan Mal Pakuwon ini berada di salah satu kawasan patahan aktif yang ada di Kota Semarang,” ungkap Rukiyanto.
Head of Human Resources (HR) Pakuwon Group, Iful Novianto, mengatakan pihaknya telah mengantisipasi potensi dampak proyek sejak sebelum pekerjaan dimulai. Salah satunya dengan menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk melakukan survei awal terhadap bangunan warga di sekitar lokasi.
Survei tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi bangunan dalam radius sekitar 150 meter dari area proyek sehingga perusahaan memiliki data awal mengenai kondisi rumah warga sebelum pekerjaan berlangsung.
“Ketika ada permasalahan, kami ada call center dan akan melakukan verifikasi dari tingkat RT, RW, hingga lurah. Setelah itu tim kami akan turun,” jelas Iful.
Terkait 14 rumah yang dilaporkan mengalami keretakan, Pakuwon mengaku telah bertemu dengan warga. Dalam waktu dekat perusahaan akan melakukan verifikasi lapangan sebelum menentukan langkah penanganan.
“Tim proyek kami akan turun untuk memetakan apakah kerusakan yang terjadi bersifat minor atau mayor. Kalau mayor [perbaikan] akan segera diperbaiki. Saat ini kan ada dua proyek yang berjalan, perbaikan jalan dan proyek kami. Tapi apa pun yang terjadi, setiap keluhan masyarakat akan tetap kami tindak lanjuti,” terangnya.
Sementara itu, Senior Project Manager Pakuwon Group, Paulus Louw, menjelaskan pekerjaan yang saat ini berlangsung belum memasuki tahap pembangunan mal. Aktivitas yang dilakukan masih sebatas pematangan lahan dan penguatan area pengembangan karena lokasi proyek berada di kawasan tanah gerak.
Pihak Pakuwon memasang struktur penahan tanah berupa soldier pile. Struktur tersebut bukan fondasi bangunan utama, melainkan berfungsi menjaga stabilitas lahan selama proses pengembangan berlangsung.
“Jadi kerjanya soldier pile ini benar-benar hanya untuk menahan kestabilan lereng di area yang akan kita kembangkan nanti. Soldier pile yang kami pasang terdiri atas tujuh lapis dengan diameter antara 1-1,2 meter dan panjang tiangnya mencapai 30 hingga 40 meter,” tandas Paulus.

Leave a Reply