Sulap Limbah Sayur Jadi Energi, Warga Manggihan Getasan Semarang Hemat Gas

Sulap Limbah Sayur Jadi Energi, Warga Manggihan Getasan Semarang Hemat Gas
Warga Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng) mengolah limbah sayuran menjadi biogas, Senin (6/4/2026). (Daerah/Hawin Alaina)

Cendrawasihpost.com, UNGARAN — Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng) di lereng Gunung Merbabu dikenal sebagai sentra penghasil sayuran. Namun di balik melimpahnya hasil panen, terselip persoalan klasik, yakni limbah sayuran yang menumpuk dan berpotensi mencemari lingkungan.

Kondisi itu mendorong Karang Taruna Dharma Remaja setempat berinovasi. Sejak tiga tahun terakhir, mereka mengolah limbah sayuran menjadi biogas yang kini mulai dimanfaatkan warga sebagai bahan bakar rumah tangga.

Ketua Karang Taruna Dharma Remaja, Juwari, mengatakan langkah tersebut diambil agar limbah tidak terbuang sia-sia. “Saat ini sudah ada 15 rumah yang menggunakan biogas untuk kebutuhan memasak sehari-hari,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Tak hanya menghasilkan energi alternatif, proses pembuatan biogas juga menyisakan produk sampingan berupa pupuk organik cair yang dimanfaatkan warga untuk menyuburkan tanaman.

Juwari menjelaskan pembuatan biogas dilakukan dengan peralatan sederhana, seperti drum berkapasitas 200 liter, ban dalam truk, dan selang. Limbah sayuran dicampur air, kemudian difermentasi hingga menghasilkan gas metana.

“Perbandingannya satu kilogram sampah sayur dengan satu liter air. Proses awal sekitar satu bulan hingga gas terbentuk. Setelah itu bisa berproses secara alami. Kalau ingin lebih cepat, bisa ditambah kotoran hewan,” jelasnya.

Gas yang dihasilkan kemudian ditampung di ban dalam dan disalurkan ke kompor untuk digunakan memasak. Menurutnya, selain lebih hemat, penggunaan biogas juga lebih aman sekaligus membantu mengurangi timbunan sampah. “Lingkungan jadi lebih bersih, dan warga juga terbantu dari sisi biaya,” katanya.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh warga. Salah satunya Sulastri, 40, dia mengaku pengeluaran untuk elpiji 3 kilogram kini jauh berkurang sejak menggunakan biogas. “Dulu bisa habis 4-5 tabung per bulan, sekarang paling tiga tabung. Saya hampir setiap hari memasak pakai biogas,” ujarnya.

Dia menambahkan proses pengolahan limbah juga cukup mudah dilakukan. Sisa sayur atau buah cukup dipotong kecil, dicampur air, lalu dimasukkan ke dalam drum. “Nanti hasil fermentasinya jadi gas untuk memasak, sedangkan cairannya bisa dipakai menyiram tanaman,” katanya.

Leave a Reply