Tim UKM KSiK UIN Saizu Raih Bronze Medal di Nusantara Writing Festival 6

Tim UKM KSiK UIN Saizu Raih Bronze Medal di Nusantara Writing Festival 6
Tim Mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Studi Islam dan Kemasyarakatan (UKM KSiK) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto berhasil meraih Bronze Medal dalam ajang Nusantara Writing Festival (NWF) 6.

Cendrawasihpost.com, BANDUNG – Tim Mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Studi Islam dan Kemasyarakatan (UKM KSiK) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto berhasil meraih Bronze Medal dalam ajang Nusantara Writing Festival (NWF) 6.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Nusantara Muda bekerja sama dengan Politeknik TEDC Bandung. Kompetisi tersebut berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di Bandung. Presentasi finalis NWF 6 digelar bersamaan dengan rangkaian Pekan Esai Nasional (PENA) 3 dan Bandung Esai Competition (BEC) 4).

Lebih dari 300 finalis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut. Tim UKM KSiK UIN Saizu mengangkat isu lingkungan melalui esai berjudul “Food Rescue Hub: Ekosistem Redistribusi Surplus Pangan untuk Mewujudkan Indonesia Tanpa Food Waste.”

Tim mahasiswa tersebut terdiri atas Kharisatun Ni’mah sebagai ketua dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), serta Laelatul Mubarokah dan Mutiara Novelia sebagai anggota yang juga berasal dari Program Studi PAI.

Karya tersebut mengambil subtema Lingkungan dengan mengusung tema besar NWF 6, yakni “Transformasi Gagasan Menjadi Aksi Nyata: Kontribusi Generasi Muda dalam Mendorong Pembangunan Nasional yang Inovatif, Adaptif, dan Berkelanjutan.”

Ketua Tim UKM KSiK UIN Saizu Purwokerto, Kharisatun Ni’mah mengatakan, keputusan mengambil subtema lingkungan sempat menimbulkan keraguan. Pasalnya, seluruh anggota tim berasal dari Program Studi PAI. Namun, keresahan yang sama terhadap persoalan lingkungan, khususnya sampah makanan atau food waste, mendorong mereka untuk tetap mengambil isu tersebut.

“Kami ambil subtema lingkungan awalnya agak ragu karena dari kami anak PAI semua. Tapi kami memang sama-sama resah dengan kondisi lingkungan sekarang, terutama pada sampah sisa makanan,” ujar Kharisatun.

Menurutnya, persoalan food waste memiliki dampak yang luas. Di satu sisi, masih banyak makanan yang terbuang dan menjadi sampah. Di sisi lain, masih terdapat masyarakat yang mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Keresahan tersebut kemudian mereka kembangkan menjadi sebuah gagasan yang tidak hanya mengidentifikasi persoalan, tetapi juga menawarkan solusi berbasis teknologi.

Untuk memperkuat gagasan, tim melakukan serangkaian riset dan penelitian. Mereka memulai dengan library research melalui kajian terhadap penelitian-penelitian terdahulu.

Tim kemudian menganalisis celah atau research gap dari berbagai penelitian yang telah ada untuk menemukan pendekatan yang dapat dikembangkan dalam karya mereka.

Penelitian juga dilengkapi dengan pengumpulan data lapangan. Tim melakukan wawancara dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, observasi langsung ke tempat pembuangan sampah di Kaliori, serta wawancara dengan sejumlah aktivis lingkungan.

Berbagai metode tersebut digunakan untuk memperkuat data dan memastikan gagasan yang ditawarkan tidak berhenti pada konsep, tetapi memiliki dasar persoalan yang ditemukan di lapangan.

Dalam prosesnya, tim juga mendapatkan pendampingan dari Siti Sarah yang memberikan bimbingan sekaligus memperkaya pengetahuan dan pengalaman mereka dalam menyusun karya. “Atas bimbingan dari Ibu Siti Sarah juga kami mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman,” kata Kharisatun.

Melalui esai tersebut, tim menawarkan inovasi bernama Food Rescue Hub, yakni gagasan berupa sistem berbasis web untuk mendukung redistribusi surplus makanan.

Gagasan tersebut dirancang untuk menjembatani pihak yang memiliki kelebihan makanan yang masih layak konsumsi dengan masyarakat atau pihak yang membutuhkan.

Dalam presentasinya, tim menjelaskan gagasan mulai dari latar belakang persoalan food waste, inovasi berupa sistem distribusi surplus makanan, potensi dampak yang dihasilkan, hingga kesimpulan.

Konsep tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi makanan yang berakhir menjadi sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan surplus pangan secara lebih terorganisasi.

Perjalanan menuju babak final tidak berlangsung mudah. Tim harus membagi waktu antara aktivitas akademik dan persiapan kompetisi. Untuk memaksimalkan persiapan menjelang presentasi final, mereka menjalani karantina selama satu minggu dengan izin dari perkuliahan.

Selama masa karantina, anggota tim fokus mempersiapkan materi, memperbaiki karya, serta berlatih presentasi. Mereka menghabiskan waktu dari sekitar pukul 08.00 hingga 20.00 WIB setiap hari. Bagi mereka, proses tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan mengikuti kompetisi.

Kharisatun mengaku bangga dengan capaian yang diperoleh tim meskipun penghargaan yang diraih adalah Bronze Medal. “Mungkin bagi orang lain ini hanya sebatas Bronze Medal, tapi bagi kami ini adalah arti dari sebuah perjuangan. Kami bangga dengan hasil yang diperoleh karena kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” ungkapnya.

Dia menegaskan, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras dan keberanian mahasiswa untuk mengangkat isu di luar bidang studi mereka dapat menghasilkan karya yang kompetitif.

Prestasi Tim Mahasiswa UKM KSiK UIN Saizu di NWF 6 juga menunjukkan bahwa kontribusi mahasiswa dalam persoalan lingkungan tidak selalu harus datang dari mahasiswa yang berlatar belakang ilmu lingkungan.

Ketiga mahasiswa PAI tersebut justru membawa perspektif lintas disiplin dengan menggabungkan kepedulian sosial, pendidikan, riset, dan inovasi teknologi untuk merespons persoalan food waste.

Melalui Food Rescue Hub, mereka berupaya mengubah keresahan terhadap banyaknya makanan yang terbuang menjadi sebuah gagasan yang dapat dikembangkan menjadi aksi nyata.

Bronze Medal yang diraih di Nusantara Writing Festival 6 akhirnya bukan sekadar penghargaan bagi tim UKM KSiK UIN Saizu. Lebih dari itu, capaian tersebut menjadi penanda perjalanan panjang mereka dalam melakukan riset, turun ke lapangan, berdiskusi, berlatih, hingga tampil di hadapan ratusan finalis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Dari isu food waste, mereka membawa satu pesan penting: generasi muda tidak cukup hanya mengenali persoalan, tetapi juga perlu berani mengubah gagasan menjadi solusi yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan. (NA)

Leave a Reply