SLEMAN – Membakar sampah di lahan terbuka sudah lama menjadi kebiasaan sebagian warga Padukuhan Losari II, sebab cara tersebut paling cepat menuntaskan tumpukan sampah rumah tangga yang datang setiap hari. Akan tetapi, asap yang ditimbulkannya tidak ikut selesai bersama api yang padam, melainkan menetap di permukiman dan mengganggu kenyamanan warga di sekitarnya. Persoalan itu bahkan bertambah setiap kali kemarau tiba, sebab api yang ditinggalkan di lahan terbuka mudah merambat ke rumput dan ranting kering di sekelilingnya. Keadaan tersebut terasa lebih genting mengingat padukuhan yang berada di Kalurahan Wukirharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, itu terletak di wilayah perbukitan.
Berangkat dari kondisi itulah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Sosialisasi Pembuatan dan Penggunaan Incinerator Sampah Minim Asap di Padukuhan Losari II pada Kamis (13/8/2026). Program yang dipimpin Kenya Kartika tersebut mengambil pendekatan yang tidak menuntut warga meninggalkan kebiasaan lamanya sekaligus, melainkan memindahkan pembakaran itu ke tempat yang jauh lebih terkendali.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan pemaparan mengenai dampak pembakaran sampah secara terbuka. Dalam sesi tersebut, mahasiswa menguraikan asap yang dihasilkan beserta risikonya bagi lingkungan sekitar melalui penyampaian yang sengaja dibuat sederhana, sementara contoh yang dipakai diangkat dari keadaan yang setiap hari ditemui warga sehingga materinya tidak terasa jauh dari kenyataan di padukuhan.
Seusai sesi materi, mahasiswa melanjutkannya dengan demonstrasi alat yang perbedaannya dari kebiasaan lama sebenarnya terletak pada satu hal, yakni tempat api itu menyala. Pembakaran terbuka membiarkan api bersentuhan langsung dengan tanah, rumput kering, dan udara bebas, sehingga nyalanya sulit dikendalikan dan asapnya langsung menyebar ke permukiman. Sebaliknya, incinerator mengurung proses yang sama ke dalam ruang bakar tertutup, sehingga api tidak lagi punya jalan untuk merambat ke sekitarnya, sementara asap keluar melalui jalur yang sudah ditentukan sejak alat tersebut dirancang.
Dari penjelasan itu, mahasiswa memperkenalkan alat yang telah mereka siapkan bagian per bagian, disusul uraian mengenai cara mengoperasikannya. Dengan melihat langsung alat tersebut bekerja, warga tidak perlu lagi membayangkan penjelasan yang sebelumnya hanya mereka dengar.
Meski demikian, mahasiswa tidak menutup kegiatan dengan kesan bahwa alat tersebut bebas dari risiko. Warga justru diingatkan bahwa penggunaannya tetap harus memperhatikan keamanan dan kondisi lingkungan di sekitar titik pembakaran.
Ketertarikan warga sendiri terbaca dari cara mereka mengikuti kegiatan tersebut. Rangkaian acara diikuti sampai tuntas, mulai dari pemaparan materi hingga alat selesai diperagakan, dan suasananya berjalan dua arah alih-alih satu arah dari mahasiswa saja, dengan pertanyaan yang bermunculan di sela demonstrasi. Sebagai penutup sekaligus bentuk apresiasi atas partisipasi tersebut, panitia mengumumkan pemenang doorprize.
Sosialisasi itu memang hanya berlangsung satu hari, sedangkan sampah rumah tangga di Losari II akan terus menumpuk setiap harinya. Karena itu, dengan mengusung semangat Kurangi Asap, Kurangi Dampak, mahasiswa KKN UNS berharap alat yang mereka kenalkan tidak berhenti sebagai tontonan sehari, melainkan menjadi cara baru warga memperlakukan sampah mereka sendiri.

Leave a Reply