Bersama-Sama Membangun Budaya Membaca Taktil

Bersama-Sama Membangun Budaya Membaca Taktil
Salah satu bagian bangunan SMP Muhammadiyah Program Khusus Boarding School (PKBS) Solo. (Istimewa)

Cendrawasihpost.com, SOLO—Beberapa sekolah di Soloraya dalam dua bulan terakhir bekerja sama dengan Daerah membangun budaya membaca taktil berbasis Koran Daerah.

SMP Muhammadiyah PKBS Solo, SD Alam Surya Mentari Solo, MA Cendekia Nashirul Wasathiyyah Klaten, SMPN 1 Plupuh, dan SMPIT Insan Mulia Solo menjalin kerja sama publikasi sekolah atau berlangganan Koran Daerah.

Membangun budaya membaca taktil adalah membangun kebiasaan atau praktik membaca yang melibatkan penggunaan indra peraba atau sentuhan jari alih-alih sekadar indra penglihatan. 

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan taktil sebagai berkaitan dengan sentuhan atau rabaan. Penerapan budaya membaca taktil berbasis koran harian cetak seperti Daerah bermakna membaca yang sekaligus menggunakan indra peraba untuk berelasi dengan bahan bacaan.

Membaca koran cetak pada dasarnya adalah proses visual, tetapi memiliki elemen fisik dan taktil yang sangat kuat dalam pengalaman membaca.

Meskipun teksnya tidak berbentuk huruf timbul (seperti huruf Braille), interaksi fisik antara tangan, kertas, dan tekstur koran menjadikan membaca koran sebagai salah satu bentuk pengalaman membaca berbasis fisik/sentuhan yang paling khas.

Secara teknis dan sensoris, membaca koran cetak melibatkan dimensi taktil melalui beberapa hal. Pertama, tekstur kertas khusus (newsprint).

Kertas koran memiliki porositas, serat, dan kehalusan yang sangat berbeda dari kertas HVS atau layar digital. Gesekan antara ujung jari dan permukaan kertas koran memberikan umpan balik sensorik (tactile feedback) yang khas.

Kedua, navigasi fisik dan spasial. Berbeda dengan scrolling di layar smartphone, membaca koran melibatkan lipatan, lembaran besar, dan tatanan kolom.

Pembaca secara aktif memegang, membuka kertas koran yang lebar, melipat kembali, dan menggeser jari di sepanjang kolom berita untuk menandai posisi bacaan.

Ketiga, tinta dan bobot media. Tinta cetak offset meninggalkan sensasi tekstur tipis serta aroma khas di jemari. Bobot fisik koran di tangan memberi kepastian visual dan spasial mengenai sejauh mana kita telah membaca.

Dalam perspektif literatur akademis literasi, membaca taktil murni berfokus pada penerjemahan simbol timbul menjadi makna, sseperti huruf Braille atau grafik timbul, tanpa bantuan penglihatan.

Membaca koran cetak adalah membaca visual yang terikat kuat pada pengalaman kinestetik dan taktil (embodied reading).

Meskipun informasi utamanya diserap oleh mata, aspek fisik dari koran cetak memberikan kepuasan sensoris yang tidak bisa direplikasi oleh media digital, menjadikan aktivitas membaca koran sebagai interaksi fisik yang nyata antara tubuh dan media baca.

Membaca taktil melalui media cetak fisik (buku/koran) maupun huruf Braille memberikan perlindungan alami terhadap berbagai dampak buruk paparan layar digital atau screen fatigue dan fragmentasi perhatian.

Pertama, mengatasi digital eye strain atau kelelahan mata. Kedua, melatih deep reading dan fokus yang dalam. Ketiga, retensi memori lewat peta spasial atau sensori ganda. Keempat, detoksifikasi kognitif dari notifikasi layar digital.

Kelima, pengalaman mindfulness dan kesadaran tubuh. Membaca di media cetak menghadirkan ikatan nyata atau embodied cognition, seperti berat buku, aroma kertas, tekstur halaman, dan aktivitas melipat.

Proses fisik yang lambat dan terukur ini mengembalikan ritme tubuh ke kondisi rileks, berlawanan dengan sifat media digital yang serbacepat dan instan. (*)

Ingin berlangganan Koran Daerah dan membudayakan membaca taktil? Hubungi Sunyoto di nomor telepon atau WA 081804407888.

Leave a Reply