Cendrawasihpost.com, KARANGANYAR — Batik Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, mulai memperluas bidikan pasar. Tak hanya menyasar pencinta batik klasik dan tradisional, para perajin kini membidik generasi muda dengan menghadirkan desain yang lebih modern serta memanfaatkan teknologi digital.
Koordinator Batik Girilayu, Nyoto Mulyono, mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan batik Girilayu agar tak hanya dikenal di kalangan tertentu. Nyoto mengatakan Batik Girilayu sebenarnya telah memiliki pasar tersendiri, mulai dari konsumen batik tradisional hingga produk turunannya. Namun, pihaknya ingin memperluas pasar dengan menyasar semua lapisan masyarakat, terutama anak muda.
“Harapan kami, semua kalangan bisa memakai batik dari Girilayu. Segmen yang saya kejar adalah milenial,” kata dia saat peresmian Galeri Batik Girilayu di kompleks Astana Giribangun, Matesih, Sabtu (12/9/2026).
Peresmian tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disdagperinaker) Kabupaten Karanganyar Agung Wahyu Utomo yang mewakili Bupati Rober Christanto, jajaran Forkopimcam, serta para perajin Batik Girilayu.
Gaet Generasi Muda
Menurut Nyoto, upaya menggaet generasi muda tidak bisa hanya mengandalkan pola produksi dan pemasaran konvensional. Digitalisasi dan teknologi perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing Batik Girilayu. Dia menyebut telah ada dukungan dari MPR RI untuk mendorong modernisasi peralatan dan proses produksi batik di Girilayu.
“Digital dan teknologi tidak akan bisa kami tinggalkan. Ke depan, mungkin dalam waktu dekat, kami ingin kolaborasi dengan teman-teman pembatik untuk belajar membatik dengan sistem digital yang terbaru sehingga kami bisa bersaing,” ujarnya.
Nyoto mengatakan modernisasi produksi juga diharapkan membuka peluang bagi perajin untuk menghadirkan batik dengan harga lebih terjangkau. Selama ini, batik tulis Girilayu yang dibuat secara manual membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak sehingga harga jualnya relatif tinggi.
Nyoto mencontohkan batik klasik dengan pakem keraton dibanderol mulai sekitar Rp750.000. Bahkan, salah satu karya Batik Girilayu pernah terjual hingga Rp23 juta. Sementara itu, batik untuk segmen menengah ke bawah berada di kisaran Rp250.000 hingga Rp400.000. Karena itu, pihaknya mulai membidik produk dengan harga di bawah Rp500.000.
“Makanya sekarang saya mengincar yang Rp500.000 ke bawah,” kata Nyoto.
Meski mendorong modernisasi, Nyoto menegaskan teknologi tidak akan menggantikan batik tulis. Mesin, menurut dia, dapat membantu meningkatkan jumlah produksi, tetapi tidak bisa menggantikan nilai historis dan kultural yang melekat pada batik tulis.
“Kalau batik tulis asli kan dari tangan, tapi kalau mesin semua orang bisa buat. Saya tetap bertahan pada warisan itu,” ujarnya.
Bagi Nyoto, batik tulis bukan sekadar produk komersial, melainkan warisan leluhur sekaligus identitas masyarakat Girilayu. “Itu warisan leluhur kami. Kita ada semuanya karena beliau-beliau ini. Jadi saya akan kualat kalau tidak seperti itu,” katanya.
Dia memastikan batik tulis tetap menjadi ikon Batik Girilayu. Adapun teknologi digunakan untuk melengkapi dan memperkuat produksi, bukan menghilangkan tradisi membatik secara manual.
Dari sisi sumber daya manusia, Paguyuban Batik Girilayu bernama Giri Arum menaungi 12 kelompok perajin. Total anggota yang tercatat mencapai sekitar 600 pembatik. Namun, pembatik yang masih aktif saat ini diperkirakan sekitar 200 hingga 300 orang.
Dikatakannya, Batik Girilayu memiliki motif khas bernama Tridharma. Motif tersebut telah dipatenkan dan terinspirasi dari lingkungan serta kekayaan alam yang ada di Girilayu.
“Tridharma itu sudah dipatenkan. Kami memang mengangkat dari sini, lingkungan sini, motifnya, dan juga hasil bumi dari Girilayu. Itu ikon kami,” kata Nyoto.
Pelajaran Membatik di Sekolah
Upaya menjaga keberlanjutan batik juga terus dilakukan melalui sektor pendidikan. Para perajin, lanjut dia, berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan untuk mengisi pembelajaran membatik di sekolah melalui program life skill.
Selain itu, kelompok perajin menerima kunjungan sekolah dalam kegiatan outing class. Nyoto menilai kegiatan tersebut penting untuk mengenalkan batik kepada generasi muda sekaligus menjaga regenerasi perajin.
Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, mengatakan peresmian Galeri Batik Girilayu menjadi momentum untuk membawa produk perajin lokal tersebut naik kelas.
Dia berharap pemasaran Batik Girilayu tidak berhenti di tingkat desa maupun kabupaten, tetapi berkembang ke tingkat provinsi, nasional, hingga pasar internasional.
“Harapan saya pembatik di Girilayu tidak hanya di lingkungan desa, tetapi mulai ke provinsi, provinsi ke Indonesia, Indonesia dan mendunia,” kata Siti.
Menurut dia, sentuhan modern dibutuhkan agar Batik Girilayu mampu mengikuti perkembangan zaman. Namun, modernisasi tersebut tidak boleh menghilangkan pakem tradisional yang menjadi identitas utama batik.
“Kalau pakem tradisional harus tetap. Tetapi ada sentuhan modern. Tradisional ini tidak akan punah, pakemnya harus dijaga. Tapi yang modern juga sangat diperlukan sekarang,” jelasnya.
Siti mencontohkan generasi muda membutuhkan batik dengan desain, warna, dan model yang lebih beragam. Produk dengan sentuhan modern dinilai lebih mudah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan batik dengan pakem tradisional tetap dibutuhkan untuk kegiatan resmi dan acara adat.
Modernisasi, lanjut dia, tidak cukup hanya menyentuh peralatan produksi. Strategi pemasaran juga harus mengikuti perkembangan teknologi.
“Jadi bukan hanya produksi, tetapi dari pemasarannya, cara pemasarannya juga. Bukan hanya pemasaran konvensional, tetapi cara pemasarannya juga harus dipikirkan,” ujarnya.
Alat Produksi Tingkatkan Kapasitas
Dia menilai penggunaan alat cap maupun teknologi produksi lainnya dapat meningkatkan kapasitas produksi sehingga batik bisa dijangkau lebih banyak masyarakat. Di sisi lain, proses membatik menggunakan canting tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya.
“Kalau ini masih canting semua, tingkat harganya juga cukup mahal. Kalau bisa dimodernisasi dengan alat cap atau yang lain, produksinya bisa lebih banyak dan bisa lebih banyak masyarakat yang menggunakan,” kata Siti.
Siti juga mengapresiasi regenerasi pembatik di Girilayu yang dinilai mulai menunjukkan hasil. Dia menyebut sudah ada generasi muda yang terlibat dalam desain Batik Girilayu, termasuk seorang desainer berusia sekitar 18 tahun.
Menurut dia, keterlibatan anak muda tersebut menjadi sinyal positif bahwa tradisi membatik di Girilayu memiliki peluang untuk terus hidup dan berkembang.
“Regenerasi itu sudah berjalan. Yang pasti pembatik Girilayu ini tidak akan punah. Itu yang perlu kita lestarikan dan kita bawa ke tingkat yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Leave a Reply