Arab Saudi Minta AS Serang Houthi, Trump Menolak

Arab Saudi Minta AS Serang Houthi, Trump Menolak
Kelompok Houthi menggelar unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran saat mereka berkumpul di Al Sabeen Square, Sanaa, Yaman, (3/4/2026). (ANTARA/Anadolu/Mohammed Hamoud)

Cendrawasihpost.com, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan militer langsung terhadap kelompok Houthi di Yaman setelah kelompok tersebut merebut kota pelabuhan strategis Mokha.

Dilansir Anadolu dari Axios, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menghubungi Presiden AS Donald Trump dua kali pada Kamis (10/9/2026). Dalam kontak pertama, Mohammed menyampaikan kemunduran pasukan Yaman yang didukung Riyadh.

Beberapa jam kemudian, pemimpin Arab Saudi tersebut secara resmi meminta AS memberikan dukungan udara untuk menghadapi pergerakan Houthi menuju Selat Bab al-Mandeb.

Namun, Trump menolak permintaan tersebut. Menurut sumber Axios, keputusan itu diambil karena AS ingin mempertahankan fokus strategis terhadap Iran dan Selat Hormuz serta menghindari pembukaan front konflik baru.

AS Pilih Bantuan Intelijen

Meski menolak serangan langsung, Gedung Putih menyetujui dukungan nonkinetik berupa transfer informasi intelijen dan data penargetan untuk membantu pasukan Arab Saudi.

Sekitar 200 personel militer AS berada di Arab Saudi sebagai penasihat dan penghubung. Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, juga dikirim ke Arab Saudi pada Kamis untuk melakukan konsultasi.

Ketegangan meningkat setelah Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil memperingatkan bahwa negaranya akan mengambil semua langkah yang diperlukan menyusul serangan Houthi pada awal pekan. Serangan terhadap sejumlah lokasi sipil di kota-kota Arab Saudi bagian selatan dilaporkan melukai 73 orang.

Mokha dan wilayah pesisir di sekitarnya memiliki nilai strategis karena berada dekat Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Eskalasi di Yaman meningkat sejak awal Juli setelah situasi relatif tenang menyusul gencatan senjata pada April 2022. Houthi telah menguasai Sanaa dan sebagian besar wilayah utara serta barat Yaman sejak September 2014.

Sejak Maret 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman dalam menghadapi Houthi, yang dituduh mendapat dukungan dari Iran.

Sumber: Anadolu-Antara

Leave a Reply