Cendrawasihpost.com, SOLO-Pusat Studi Jepang bersama Program Studi Arsitektur UNS kembali mengadakan program public art sebagai bentuk advokasi ruang publik berupa mural di Dukuh Trangsan, Desa Trangsan pada tanggal Jumat (31/7/2026). Kegiatan advokasi mengenai identitas dan kekayaan lokal Desa Trangsan ini merupakan bagian dari Pengabdian Masyarakat Program Kemitraan Masyarakat Internasional dan kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka bersama Pusat Studi Jepang Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS), Laboratorium Urban Rural Design and Conservation (URDC) Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik (FT) UNS , Laboratorium Desain Budaya, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS.
Kegiatan dengan tajuk Peningkatan Kapasitas Kreativitas Produksi Rotan melalui Pemetaan Budaya dan Perancangan Tata Ruang Desa Wisata berbasis Partisipatif di Desa Trangsan ini menggandeng mitra internasional Rotterdam University of Applied Science (RUAS) Belanda, Kyushu University (KU) Jepang dan Chiba University (CU) Jepang. untuk bersama membranding kekayaan lokal Trangsan sebagai bagian dari meningkatkan kualitas visual di ruang publik Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukaharjo.
Kegiatan mural mengusung konsep identitas lokal Desa Trangsan, Visual yang dihadirkan mengangkat potensi industri rotan yang telah berkembang sejak tahun 1927 dan menjadikan Desa Trangsan sebagai salah satu sentra sekaligus produsen rotan terbesar di Jawa Tengah. Selain itu, mural juga menampilkan Stasiun Gawok sebagai salah satu landmark kawasan serta tradisi tahunan Grebeg Penjalin yang diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur masyarakat sekaligus sarana memperkenalkan identitas Desa Trangsan kepada masyarakat luas.
Kegiatan mural berlokasi pada salah satu dinding rumah warga di Dusun Trangsan milik Bapak Purnomo yang memiliki lokasi strategis. Lokasi menghadap langsung ke jalan utama desa dan berada di dekat cakruk, ruang komunal yang kerap menjadi tempat berkumpul warga. Pemilihan lokasi ini diharapkan mampu meningkatkan visibilitas mural sehingga pesan mengenai identitas lokal Desa Trangsan dapat tersampaikan kepada masyarakat maupun pengunjung yang melintas.
Perwakilan mitra internasional dari Rotterdam University of Applied Sciences, Belanda, Bartolomeo Contarini, menyampaikan apresiasinya terhadap program ini. Menurutnya, rancangan desain mural yang cukup kompleks mampu dieksekusi dalam waktu singkat, suatu pencapaian yang cukup mengesankan. Ia juga berharap mural tersebut dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat serta lingkungan Desa Trangsan.
Kegiatan melibatkan tim dosen PKMI 2026 UNS, di antaranya Dr. Eng Kusumaningdyah N. H., S.T., M.T., Pandu Purwandaru, Silmi Cahya Pradini Priliana, Danar Praseptiangga dan Trisna Dwi Putri Novitabella
Tim mahasiswa dari Prodi Arsitektur yang terlibat diantaranya yaitu Calista Malva, Chikita Natalia, Fransisca Ayu, Kuwinta Dhara, Muhammad David, Muhammad Hafidz, Roisa Dzakiya, serta Titan Maharani.
Serangkaian evaluasi terhadap program mural yang telah dilaksanakan sebelumnya menunjukkan bahwa penguatan identitas lokal, khususnya industri rotan sebagai ikon Desa Trangsan, menjadi salah satu masukan utama dari masyarakat. Hal ini menjadi inspirasi serta landasan dalam penentuan tema besar mural tahun ini. Dengan melibatkan mahasiswa, warga setempat, serta anak-anak dalam proses pelaksanaannya, mural ini diharapkan tidak hanya menjadi representasi visual identitas Desa Trangsan, tetapi juga mampu menumbuhkan rasa memiliki serta menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, masyarakat, dan mitra internasional, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals/SDGs, khususnya SDG 4 (Quality Education); SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure); SDG 11 (Sustainable Cities and Communities); serta SDG 17 (Partnerships for The Goals). (NA)

Leave a Reply